Kamis, 18 Desember 2014


Arah dan Tujuan Pendidikan Islam

Setiap kegiatan, amal, aktivitas seseoarang pasti mempunyai arah dan tujuan. Tujuan dan arah diperlukan untuk menjadi salah satu fokus dalam kegiatan. Tujuan dan arah ini pula yang menjadikan apakah kegiatan, amal, aktivitas itu menjadi bernilai. Misalkan, kalau ada orang yang melakukan sesuatu itu hanyauntuk sekedar mengsisi waktu luang, maka aktivitas yang ia lakukan tidak lebih dari mengisi waktu-waktu luang saja. Dalam artian aktivitas yang ia lakukan adalah sambilan. Dan ingat kerja/ usaha yang dilakukan SAMBILAN hasilnya akan sambil juga alias tidak sebarapa. Namun jika kerja/ usaha dilakukan dengan fokus dan kesungguhan, maka hasilnya akan bernilai. 


        Begitu juga dengan pendidikan. Pendidikan haruslah didasari dengan tujuan dan arah yang bernilai. Tujuan dan arah adalah sebuah cita-cita dalam pendidikan. Untuk itulah arah dan tujuan pendidiakan perlu dirumuskan dan disusun secara apik dan istimewa.

Lantas apa tujuan pendidikan Islam?

      Jalal mengatakan bahwa tujuan umum pendidikan Islam terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Ia juga mengatakan tujuan umum ini akan menghasilkan tujuan khusus, dengan menutip surat at-Takwir ayat 27.
 
 Al Qur'aan itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta Alam.
            Jalal mengatakan bahwa tujuan itu hanyalah untuk seluruh manusia, menjadi manusia yang menghambakan diri kepada Allah.[1]
            Islam menghendaki agar manusia dididik supaya mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah SWT.[2] Hal ini dapat diketuhui dari surat al-Dzariat ayat 56. 
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Ada beberapa ayat al-Qur’an yang senada dengan ayat diatas, seperti di dalam beberapa ayat berikut ini:
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (QS. al-Baqarah: 21).
Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku." (QS. al-Anbiya’: 25). 
Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut  itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl: 36). 
Di dalam bukunya yang lain, Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa tujuan pendidikan merupakan lulusan yang diharapkan yaitu berupa manusia terbaik yang mempunyai ciri-ciri berupa berbadan sehat dan kuat, cerdas serta pandai, beriman kuat, disiplin tinggi, jujur, kreatif, ulet, berdaya saing tinggi, mampu hidup berdampingan dengan orang lain, menghargai waktu, demokratis, mampu mengendalikan diri.[3]   
Hal ini senada dengan tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh Ahmad Sastra, tujuan pendidikan adalah mencerdaskan dan membentuk jiwa yang Islami, sehingga akan terwujud sosok pribadi Muslim sejati yang berbekal pengetahuan dalam segala aspek kehidupan.[4] Sedangkan tujuan pendidikan pada zaman kekhalifahan adalah membekali akal dengan pemikiran dan ide-ide sehat, baik mengenai aqaid (cabang-cabang aqidah), maupun hukum sehingga membentuk kepribadian yang Islami.[5] Adapun kepribadian dibentuk dengan dua faktor yaitu pola fikir dan pola sikap.[6]
Di dalam buku menggagas Pendidikan Islam, dikatakan bahwa tujuan pendidikan Islam ialah untuk membentuk manusia yang berkarakter yaitu, berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah islamiyyah, menguasai ilmu kehidupan yang memadai.[7]
Dari semua tujuan pendidikan Islam diatas, dapatlah kita fahami dengan seksama bahwa tujuan pendidikan dalam Islam terangkum di dalam surat Ali-Imran ayat 79, yang disana seorang pendidik haruslah mempunyai penguasaan terhadap Kitab, hikmah, dan nubuwwah. Namun tujuannya bukanlah untuk menguntungkan diri sendiri melainkan, hasil dari pendidikan ialah pengagungan terhadap Allah SWT dengan menjadikan diri sebagai—yang disebut oleh al-Qur’an—rabbani.[8] Adapun syarat untuk menjadi seorang rabbani ialah dengan mengajarkan al-Kitab dan mempelajarinya.  
Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan yang dirumusakan oleh al-Attas yaitu tujuan pendidikan menurut Islam ialah untuk menciptakan manusia yang baik.[9] Ia tidak setuju bahwa tujuan pendidikan menghasilkan pekerja dan warga Negara yang baik. Karena al-Attas berpendapat bahwa pekerja dan warga Negara yang baik dalam Negara sekuler tidaklah sama dengan manusia yang baik. Sebaliknya manusia yang baik sudah pasti pekerja dan warga Negara yang baik.[10]
 
Baik dalam arti kata yaitu man of adab manusia beradab. Karena kata baik disini menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki adab dalam pengertian sepenuhnya inklusif.[11] Prof Wan menerangkan dengan lengkap apa saja yang dimaksud dengan orang yang beradab:
Seorang pria yang beradab ialah orang yang secara ikhlas menyadari bahwa ia memiliki tanggung jawab terhadap Allah, yang memahami dan memenuhi kewajiban untuk dirinya dan orang lain di dalam masyarakat melalui keadilan, serta terus berusaha memperbaiki setiap aspek dari dirinya agar mencapai kesempurnaan sebagai seseorang yang beradab (insan adabi). Pendidikan adalah ta’dib: yang menanamkan adab dalam diri manusia.[12]